Fresh Orange
Bayangkan aku mengiris buah jeruk segar dan meneteskannya ke lidahmu ..^^
Sabtu, 26 Mei 2012
Uang vs barter
25 Mei 2012, 08.45 WIB, lantai 2 Dekanat Fakultas,nunggui tas ma laptop
Uang, uang, uang, manusia itu butuh uang ya buat membeli apa yang dia butuhkan atau apa yang dia inginkan. Kenapa sih harus pakai uang? Kenapa gak pakai system barter saja seperti orang-orang dulu, pakai tulang, daging, hasil alam, atau apalah. Asyik mungkin ya kalau system barter itu masih berlaku sampai sekarang, mau bayar SPP misalnya tinggal bawa ayam titipan mamah, “Nak, ini ayam buat bayar SPP.” Mau beli mobil tinggal barter pakai sapi limosin misalnya, asyik deh kayaknya. Kenapa ya harus pakai uang?
Buat beli buku ini aja harus pakai uang, mau buang air kecil atau besar di toilet aja harus bayar pakai uang. Coba kalau buang air kecil di toilet umum tinggal barter pakai jeruk misalnya. Kadang uang memang bikin pusing ya. Mungkinkah kita tidak usah memikirkan uang? Sehingga tidak orang stres gara-gara gak punya uang, sehingga mamah ma ayah gak perlu ribut nyuruh aku cepet lulus. Atau aku sendiri gak usah pusing bagaimana caranya memenuhi kebutuhan hidupku sendiri, mau beli makan tinggal barter pakai buku misalnya (buku banyak tuh di lemari). Semuanya kenapa serba uang?
Suami istri bisa ribut dan gak harmonis juga karena uang, aku gak ngerti bagaimana ceritanya hingga masalah uang, dua orang bisa jadi gak akur, hanya karena masalah kertas bergambar atau logam bergambar dan bertuliskan angka, orang bisa jadi marahan. Padahal kalau dipikir pun, rasanya uang hanya masalah kecil dari seribu masalah lain yang dihadapi orang, masih ada masalah moralitas misalnya, konser Lady Gaga aja pasti juga ujung-ujungnya duit.
Tapi manusia itu punya akal yang terus berkembang seiring perkembangan zaman. Dari dulu di mana untuk berpergian menggunakan onta sekarang ke mana-mana bisa pakai mobil, coba bayangkan kalau mau berangkat kerja aja seorang direktur sebuah perusahaan menggunakan onta, entahlah mungkin gak aka nada ceritanya kantor mulai bekerja jam delapan. Atau mau ngirim motor ke luar kota, kontainernya harus ditarik dengan gajah, gak kebayang berapa jumlah gajah yang dibutuhkan.
Mikirin uang juga harus mikirin bagaimana cara mendapatkannya? Dari cara yang halal sampai cara yang haram, orang bisa melakukan segala hal untuk mendapatkan uang. Sampai maling pun nekat nyuri buat dapetin uang, meskipun konsekuensinya dia bakalan digebugin orang-orang.
Buku-buku motivasi sekarang pun tidak pernah lepas dari yang namanya uang. Pencapaian kesuksesan yang kemudian ujung-ujungnya uang.
Persepsi uang antara orang satu dengan lainnya pun pasti berbeda-beda, uang Rp 100 yang bagi kita gak ada manfaatnya, bagi seorang pengems itu sangat berarti. Atau dalam konteks waktu tertentu, di suatu waktu mungkin uang Rp 100 tidak berarti tapi di waktu lain ketika mau bayar parkir dan ternyata uangnya cuman Rp 400 pasti bingung deh.
Ya bagaimana pun uang akan tetap menjadi kebutuhan hidup manusia untuk memenuhi keinginan dan kebutuhannya. Hanya saja persepsi tentang uang, bagaiamana cara memadang uang itu yang perlu kita perbaiki. Jangan sampai uang menjadi sumber masalah dalam kehidupan manusia, jangan sampai persaudaraan terputus hanya karena masalah uang.
Kata ayahku, “waktu adalah uang, kalau kamu menyia-nyiakan uang, berarti kamu menyia-nyiakan waktu.”
Fresh Orange : satu jeruk untukku
.
Tulisan ini bukan mengenai resep cara membuat minuman jeruk yang enak dan seger, bukan juga tentang cerita sepasang jeruk yang sedang memadu kasih terus mereka berjauhan alias LDR (gak nyambung banget deh). Hanya tulisan ringan seberat kapas karena tulisannya ditulis dikertas bukan di batu (emangnya prasasti???).
Buah jeruk itu ada berbagai macam ukuran dan rasa, mulai dari yang kecil-kecil segede upil (upil apa ya yang segede jeruk?) yang namnya jeruk Sunkist (salah gak sih?) ampe yang segede bola voli kaya jeruk bali atau mandarin (aku gak tau kenapa buah-buahan yang namanya mandarin pasti gede-gede?). jeruk terkenal karena kandungannya vitamin C nya, biar gak sariawan atau meningkatkan daya tahan tubuh. Jeruk pun buah yang merakyat karena bisa dikonsumsi dari presiden ampe rakyat-rakyatnya.
Lebih dari itu semua, buah jeruk hampir tidak pernah absen di lemari kulkas di rumahku. Apalagi kalau aku lagi di rumah, kalau mamah bingung kasih sesajen buat aku, pasti jeruk akan selalu ada menjadi menu utama. Tapi, akhir-akhir ini ayah pun suka membeli jeruk meskipun aku gak ada di rumah. Buah yang kadang kecut manis itu selalu menemani obrolan kami biasanya setelah makan. Aku akan mengambil dua jeruk, satu jeruk untukku, satunya lagi untuk ayah dan mamah (ceritanya dibagi dua nih yee,hehe). Obrolan apapun mulai dari ayam, hingga isu terhangat di televisi, paling menyakitkan adalah ketika membicarakan kapan aku lulus, itu sangat menyakitkan. Hukz
Jeruk juga suka menjadi teman ketika aku merasa bosan dan ingin memakan sesuatu. Aku akan langsung ke kulkas dan mencari buah berbentuk bullet yang warnanya orange atau kadang pun hijau kuning (tapi gak ada merahnya, ntar dikira lampu lalu lintas). Kemudian aku gunakan untuk bermain bola, ya gak lah, ya dimakan lah. Kalau beli minuman pun aku biasanya milih yang rasa jeruk. Dengan kata lain, buah jeruk sudah jadi buah favoritku. Hayayah
Like orange like, liat kata sebuah website tentang desain grafis, "Dari sisi psikologis sebenarnya warna oranye memberikan kesan tidak nyaman, dan sedikit gaduh. Mungkin karena sebab itulah warna ini paling banyak di pakai untuk menarik perhatian orang." hahaha... warnanya ada di antara warna kuning dan merah like this
hehe...terbaik ^^b
Tapi kata quote-nya Frank Sinatra, “Orange is the happiest color.” hehe subyektif mungkin, well. aku hanya selalu teringat warna orange dengan ide segar. ^^b
Tulisan ini bukan mengenai resep cara membuat minuman jeruk yang enak dan seger, bukan juga tentang cerita sepasang jeruk yang sedang memadu kasih terus mereka berjauhan alias LDR (gak nyambung banget deh). Hanya tulisan ringan seberat kapas karena tulisannya ditulis dikertas bukan di batu (emangnya prasasti???).
Buah jeruk itu ada berbagai macam ukuran dan rasa, mulai dari yang kecil-kecil segede upil (upil apa ya yang segede jeruk?) yang namnya jeruk Sunkist (salah gak sih?) ampe yang segede bola voli kaya jeruk bali atau mandarin (aku gak tau kenapa buah-buahan yang namanya mandarin pasti gede-gede?). jeruk terkenal karena kandungannya vitamin C nya, biar gak sariawan atau meningkatkan daya tahan tubuh. Jeruk pun buah yang merakyat karena bisa dikonsumsi dari presiden ampe rakyat-rakyatnya.
Lebih dari itu semua, buah jeruk hampir tidak pernah absen di lemari kulkas di rumahku. Apalagi kalau aku lagi di rumah, kalau mamah bingung kasih sesajen buat aku, pasti jeruk akan selalu ada menjadi menu utama. Tapi, akhir-akhir ini ayah pun suka membeli jeruk meskipun aku gak ada di rumah. Buah yang kadang kecut manis itu selalu menemani obrolan kami biasanya setelah makan. Aku akan mengambil dua jeruk, satu jeruk untukku, satunya lagi untuk ayah dan mamah (ceritanya dibagi dua nih yee,hehe). Obrolan apapun mulai dari ayam, hingga isu terhangat di televisi, paling menyakitkan adalah ketika membicarakan kapan aku lulus, itu sangat menyakitkan. Hukz
Jeruk juga suka menjadi teman ketika aku merasa bosan dan ingin memakan sesuatu. Aku akan langsung ke kulkas dan mencari buah berbentuk bullet yang warnanya orange atau kadang pun hijau kuning (tapi gak ada merahnya, ntar dikira lampu lalu lintas). Kemudian aku gunakan untuk bermain bola, ya gak lah, ya dimakan lah. Kalau beli minuman pun aku biasanya milih yang rasa jeruk. Dengan kata lain, buah jeruk sudah jadi buah favoritku. Hayayah
Like orange like, liat kata sebuah website tentang desain grafis, "Dari sisi psikologis sebenarnya warna oranye memberikan kesan tidak nyaman, dan sedikit gaduh. Mungkin karena sebab itulah warna ini paling banyak di pakai untuk menarik perhatian orang." hahaha... warnanya ada di antara warna kuning dan merah like this
hehe...terbaik ^^b
Tapi kata quote-nya Frank Sinatra, “Orange is the happiest color.” hehe subyektif mungkin, well. aku hanya selalu teringat warna orange dengan ide segar. ^^b
Senin, 28 November 2011
Tentang skripsi temen-temenku
Sudah lama ya aku ga pernah nulis blog ini atau lebih tepatnya mempublish. Yap beberapa hari ini jujur aku sedang galau parah, asli. Ini bermula dari kalender akademik yang memberitahukan aku bahwa pendaftaran sidang skripsi untuk tahun ini ditutup pada bulan November 2011 ini. Akan dibuka lagi awal Januari 2012, dan itu pun untuk sidang tanggal 23-27 Januari 2012 yang pada hari-hari itu juga dilaksanakan wisuda. Hufff... padahal aku dah janji ma ibu ayahku buat wisuda januari 2012 ini.
Asli beberapa hari ini very-very galau, sampe aku ga mood buat ngerjain skripsi yang tela sukses dikaligrafi ma dosbingku. Ga bisa menuntut apapun. Dan yang bisa aku lakukan saat ini adalah mencoba bangkit di tengah keterpurukan. So, aku mencoba mengikuti beberapa seminar motivasi dan bedah buku motivasi. Yang pertama adalah bedah buku 9 summer 10 autumsnya Iwan Setyawan. Ada bedah bukunya juga lho dan Alhamdulillah aku juara pertama, cihuuy seumur-umur kutan lomba nulis baru kali ini aku dapet juara pertama.
Di akhir-akhir acara aku ga mau kaya peserta lain yang cuman minta tanda tangan kemudian udah pergi, ga ada kesan sama sekali, makanya aku ikut bedah buku. Kebetulan moderatornya senior deketku mas Pariman. Jadi aku nempel terus sampe akhirnya bisa speak-speak langsung. dan minta tanda tangan buat bukunya
Mas Pariman : Saya mau minta tanda tangan nih
Pak Iwan : Owh, thanx ya
Mas Pariman : Sama kasih buku saya
Pak Iwan : Lho, kamu nulis buku juga ya? Sialan lo, makanya tadi di depan aku ngerasa very special banget, ternyata lo nulis buku juga, sialan lo
Mas Pariman : Hehe iya ini juga saya tulis sebelum saya lulus 6 tahun 7 bulan.
Pak Iwan : Iya gak papa, banyak temenku yang lulus lama tapi dia ga hasilin apa-apa percuma banget. Makanya saya meskipun ga ikut apa-apa, saya komit buat lulus cepet dan jadi wisudawan terbaik.
Aku : Pak, saya juga mau minta tanda tangan
Pak Iwan : Oh, thanx ya, eh, tadi kamu yang juara 1 nya ya? congratz ya, maaf tadi lagi banyak yang minta tanda tangan"
Aku : Iya Pak
Pak Iwan : Udah semester berapa?
Aku : Aduh, berapa ya? Banyak deh,
Pak Iwan : jangan-jangan 7 tahun juga?
Aku : Gak lah, baru 5 tahun... (Asli sebenernya nusuk banget??? haiaaah)
Pak Iwan : Cepet lulus ya (Jleb asli nusuk banget : D )
waktu pak Iwan mau balik ke Hotel, dia nyalamin aku ma mas Pariman
Pak Iwan : (Sambil salaman) Beneran kita kontak-kontak ya
Mas Pariman : Okay
Pak Iwan : (nyalamin aku) mmm, kamu cepet lulus aja deh
Aku : (Gubraaag masih inget aja dia)
Terus pas mau naik taksi, salaman lagi
Pak Iwan : (Nyalamin mas Pariman) kita kontak-kontakan ya
Mas Pariman : Sip
Pak Iwan : (Nyalami aku) hhh, cepet lulus aja deh
AKu : (Jedug-jedugin kepala ke tembok)
but, sangat berkesan banget, hari keduanya aku pun ikut training EQ with Bong Chandra, motivator termuda se-Asia. Asli aku ga bisa konsen buat ikut tu seminar, karena roomnya hot, panas, sampe pmbicaranya juga buka jas. Tapi akhirnya aku malah lebih asyik ngamatin perilaku peserta training, setidaknya aku membagi beberapa tipe peserta training, yaitu
1.
Peserta serius, biasanya dia sangat antusias dengan apa yang
disampaikan pembicara, selain itu tangannya selalu aktif mencatat setia
materi berharga dari pembicara, giliran bertanya dia akan langsung
dengan semanta mengacungkan tangan, bila perlu berdiri di atas kursi.
Ya sejujurnya pun beum banyak ngefek ke aku.
Aku mau bercerita tentang temen-temenku dan skripsinya
ada banyak temenku yang punya experience yang unik bagiku. Ada temenku Bogi yang skripsinya didaftarin ma temenku lainnya Gani. Gani bilang gini, "Pokoknya aku ga rela klo Bogi ga sidang Desember 2011 ini" buset ada ya temen sebaik dia, pikirku. Ada ga temenku yang mau kek gitu??? huhuhu terharu, padahal Bogi posisinya pada waktu itu ge di rumah, sedangkan pendaftaran skripsi minggu itu yang terakhir. Jadilah Bogi menyelesaikan softnya kemudian diemail ke Gani, dan Gani yang neprint, jilidin, mpe ngurusin ke biro, gila pikirku... congratz deh Bog, and salut ma Gani, dkk yang mau ngurusin skripsinya Bogi ^^b
Ada juga temenku yang colaps kaya aku. Sudah sampe BAB III tapi ternyata disuruh ganti judul, gimana dah stres. Ngerjain mpe BAB III aja tu juga dah pengorbanan yang berdarah-darah. Akhirnya semangatnya seakan tenggelam dan aku ga tau kabar skripsinya lagi.
Temenku yang ibunya juga dosen di UNDIP meskipun di fakultas yang berbeda. Lha ini temenku yang unik, mood-moodan buat ngerjain skripsi mpe akhirnya ibunya sendiri harus ikut turun tangan bantuin tu bocah ngerjain skripsinya dengan iming-iming cepet nikah. haha
Mungkin dari temenku yang unik, temenku yang ga ada kabar ga ada apa tiba-tiba dikabarkan udah lulus. AKu yang hampir setiap hari ke kampus aja ga pernah liat di kampus buat bimbingan misalnya, tiba-tiba kata adek kostnya udah lulus. Mungkin dia terobses sama film 3 idiot kali ya? Meninggalkan teman-temannya tanpa mengucapkan say good bye.
Ya itulah temen-temenku dan kisahnya tentang skripsi, mungkin masih banyak lagi, next time aku ceritain lagi...
See You At The Atap...
Asli beberapa hari ini very-very galau, sampe aku ga mood buat ngerjain skripsi yang tela sukses dikaligrafi ma dosbingku. Ga bisa menuntut apapun. Dan yang bisa aku lakukan saat ini adalah mencoba bangkit di tengah keterpurukan. So, aku mencoba mengikuti beberapa seminar motivasi dan bedah buku motivasi. Yang pertama adalah bedah buku 9 summer 10 autumsnya Iwan Setyawan. Ada bedah bukunya juga lho dan Alhamdulillah aku juara pertama, cihuuy seumur-umur kutan lomba nulis baru kali ini aku dapet juara pertama.
Di akhir-akhir acara aku ga mau kaya peserta lain yang cuman minta tanda tangan kemudian udah pergi, ga ada kesan sama sekali, makanya aku ikut bedah buku. Kebetulan moderatornya senior deketku mas Pariman. Jadi aku nempel terus sampe akhirnya bisa speak-speak langsung. dan minta tanda tangan buat bukunya
Mas Pariman : Saya mau minta tanda tangan nih
Pak Iwan : Owh, thanx ya
Mas Pariman : Sama kasih buku saya
Pak Iwan : Lho, kamu nulis buku juga ya? Sialan lo, makanya tadi di depan aku ngerasa very special banget, ternyata lo nulis buku juga, sialan lo
Mas Pariman : Hehe iya ini juga saya tulis sebelum saya lulus 6 tahun 7 bulan.
Pak Iwan : Iya gak papa, banyak temenku yang lulus lama tapi dia ga hasilin apa-apa percuma banget. Makanya saya meskipun ga ikut apa-apa, saya komit buat lulus cepet dan jadi wisudawan terbaik.
Aku : Pak, saya juga mau minta tanda tangan
Pak Iwan : Oh, thanx ya, eh, tadi kamu yang juara 1 nya ya? congratz ya, maaf tadi lagi banyak yang minta tanda tangan"
Aku : Iya Pak
Pak Iwan : Udah semester berapa?
Aku : Aduh, berapa ya? Banyak deh,
Pak Iwan : jangan-jangan 7 tahun juga?
Aku : Gak lah, baru 5 tahun... (Asli sebenernya nusuk banget??? haiaaah)
Pak Iwan : Cepet lulus ya (Jleb asli nusuk banget : D )
waktu pak Iwan mau balik ke Hotel, dia nyalamin aku ma mas Pariman
Pak Iwan : (Sambil salaman) Beneran kita kontak-kontak ya
Mas Pariman : Okay
Pak Iwan : (nyalamin aku) mmm, kamu cepet lulus aja deh
Aku : (Gubraaag masih inget aja dia)
Terus pas mau naik taksi, salaman lagi
Pak Iwan : (Nyalamin mas Pariman) kita kontak-kontakan ya
Mas Pariman : Sip
Pak Iwan : (Nyalami aku) hhh, cepet lulus aja deh
AKu : (Jedug-jedugin kepala ke tembok)
but, sangat berkesan banget, hari keduanya aku pun ikut training EQ with Bong Chandra, motivator termuda se-Asia. Asli aku ga bisa konsen buat ikut tu seminar, karena roomnya hot, panas, sampe pmbicaranya juga buka jas. Tapi akhirnya aku malah lebih asyik ngamatin perilaku peserta training, setidaknya aku membagi beberapa tipe peserta training, yaitu
1.
Peserta serius, biasanya dia sangat antusias dengan apa yang
disampaikan pembicara, selain itu tangannya selalu aktif mencatat setia
materi berharga dari pembicara, giliran bertanya dia akan langsung
dengan semanta mengacungkan tangan, bila perlu berdiri di atas kursi.
2.Peserta tidur, dia hanya terpesona dengan pembicara di awal, tapi ketika materi berlangsung dia sukses tertidur.
3.Peserta ngobrol, dia lebih milih asyik ngobrol dengan teman
sebelahnya entah tentang apapun, yang jelas bukan materi yang sedang
dibicarakan saat itu.
4.Peserta Pacaran, ya mungkin mereka jenis yang unik karena memilih pacaran di tempat seminar bukan di bioskop.
5.Cari link, nah peserta ini cukup bermutu karena dia bisa memanfaatkan
moment untuk membangun jaringannya, bila perlu dia yang mungkin juga
seorang pedagang akan membawa barang samplenya untuk dijual.
6.
Peserta nggaya, ntahlah kadang ada saja peserta yang berdandan kaya mau
nampil di catwalk (Kucing jalan), dandanannya kadang juga mengganggu
konsentrasi peserta lainnya.
7. Peserta terpesona, dia mungkin
agak satu level dari peserta serius, hanya saja dia hanya terpesona
dengan pembicaranya sampe-sampe dia melongo waktu dengerin pembicara
ngomong, sering-sering peserta seperti ini juga telmi, misal temen
sebelahnya nanya, "Eh tadi dia bilang apa?" "Ga tau" ""Lha lu daritadi
merhatiin apa?" Peserta ini juga biasanya akan semangat klo ada
kesempatan bisa minta tanda tangan atau sekedar say hallo ma pembicara.
8. Peserta handphone, entah telpon atau sms, biasanya kan bilang, "Eh
aku sekarang lagi di seminarnya Pak Z lho, keren abis men, eh gimana
kabarmu?" intinya waktu dia cuman habis buat nelpon or smsan.
9. Peserta foto-foto, ini lebih seringnya cewek, merhatiin materi juga
ga karena foto-foto sendiri, giliran dah selese dia langsung minta foto
bareng ma pembicara.
10. Terakhi adalah peserta pencari
sertifikat, dia yang penting dateng entah aktivitas apapun yang akan
dilakukannya, baik itu iseng nyatet, merhatiin tapi kadang juga ga, klo
berani entar juga nanya, intinya tujuannya adalah untuk mendapatkan
sertifikat, klo sertifikatnya belum tersedia hari itu, dia akan terus
mengejar sampe dapet.
Ya kategorisasi ini ga baku sih, bisa campur-campur atau mungkin ada tipe peserta seminar lain ...
Ya sejujurnya pun beum banyak ngefek ke aku.
Aku mau bercerita tentang temen-temenku dan skripsinya
ada banyak temenku yang punya experience yang unik bagiku. Ada temenku Bogi yang skripsinya didaftarin ma temenku lainnya Gani. Gani bilang gini, "Pokoknya aku ga rela klo Bogi ga sidang Desember 2011 ini" buset ada ya temen sebaik dia, pikirku. Ada ga temenku yang mau kek gitu??? huhuhu terharu, padahal Bogi posisinya pada waktu itu ge di rumah, sedangkan pendaftaran skripsi minggu itu yang terakhir. Jadilah Bogi menyelesaikan softnya kemudian diemail ke Gani, dan Gani yang neprint, jilidin, mpe ngurusin ke biro, gila pikirku... congratz deh Bog, and salut ma Gani, dkk yang mau ngurusin skripsinya Bogi ^^b
Ada juga temenku yang colaps kaya aku. Sudah sampe BAB III tapi ternyata disuruh ganti judul, gimana dah stres. Ngerjain mpe BAB III aja tu juga dah pengorbanan yang berdarah-darah. Akhirnya semangatnya seakan tenggelam dan aku ga tau kabar skripsinya lagi.
Temenku yang ibunya juga dosen di UNDIP meskipun di fakultas yang berbeda. Lha ini temenku yang unik, mood-moodan buat ngerjain skripsi mpe akhirnya ibunya sendiri harus ikut turun tangan bantuin tu bocah ngerjain skripsinya dengan iming-iming cepet nikah. haha
Mungkin dari temenku yang unik, temenku yang ga ada kabar ga ada apa tiba-tiba dikabarkan udah lulus. AKu yang hampir setiap hari ke kampus aja ga pernah liat di kampus buat bimbingan misalnya, tiba-tiba kata adek kostnya udah lulus. Mungkin dia terobses sama film 3 idiot kali ya? Meninggalkan teman-temannya tanpa mengucapkan say good bye.
Ya itulah temen-temenku dan kisahnya tentang skripsi, mungkin masih banyak lagi, next time aku ceritain lagi...
See You At The Atap...
Sabtu, 05 November 2011
Habis Kuliah Langsung Kerja atau Habis Kuliah Langsung Nganggur
Aku bisa mengategorikan tempat kuliah itu pada dua jenis, jenis yang pertama kuliah yang pasca lulus kita masih harus mati-matian cari kerja sendiri atau syukur-syukur udah ada link yang menawarkan. Sedangkan jenis yang kedua adalah kuliah yang pasca lulus, kita sudah dapat tempat kerja, misalnya STAN, STIS. Dua tempat kuliah ini sama baiknya, baik yang sudah ada penempatan atau belum. Tapi aku milih kuliah di perguruan tinggi biasa bukan di STAN sewaktu dulu banyak yang mendukungku.
Alasanku simple, pertama aku ga suka dengan angka-angka atau berhitung sehingga aku akan mencari tempat kuliah yang minimal bisa meminimalisir kegiatan hitung menghitung itu, yang kedua aku ingin bebas menentukan mau belajar sebagai apa? Nyaman belajar bagaimana? Mungkin ada teman-teman yang nyaman untuk kuliah dengan dipenuhi angka-angka, tapi sayangnya aku tidak. Jika aku memilih STAN, apakah aku bisa kuliah psikologi? Bisa-bisa saja, aku bisa belajar otodidak mengenai psikologi. Tapi aku tetap tidak akan menemukan suasana menyenangkan dalam kuliah psikologi itu sendiri.
Tujuanku itu ingin belajar bukan mendapatkan nilai sebagai prioritas. Meskipun bisa saja nilai menjadi sebuah indikator. Tapi, nilai tidak selamanya menunjukan kemampuan dari seseorang. Bukan, bukan maksudku bahwa orang yang mendapatkan nilai B dalam statistika sebenarnya lebih pandai dari itu. Hanya saja tidak jarang mahasiswa sering menjadi korban atas ketidaksukaan dosen. Misalnya, "Ah, saya tidak suka dengan mahasiswa ini" meskipun dia secerdas apapun, dan sebenernya nilai ujiannya bisa mendapatkan nilai A. Karena ketidaksukaannya itu, dosen bisa saja memberikan nilai C. Ini bukan sesuatu yang luar biasa, tetapi sudah umum diketahui.
Aku masih inget cerita seorang teman, ada dosen yang mengajarkan suatu mata kuliah, "Baik, satu semester ini kita tidak akan kuliah tapi kalian masing-masing harus menghasilkan suatu alat tertentu dan nanti harus menjelaskannya pada saya" Aku pikir bagus juga.Di kuliah psikologi misalnya, aku pernah dicurhatin seorang tean, "Kenapa orang Psikologi itu tau cara belajar yang efektif tapi kenapa cara ngajarnya masih gitu-gitu aja ya?" Saya yakin, orang-orang Psikologi tidak asing dengan metode Quantum Learning. Metode yang berusaha mencapai keseimbangan antara otak kanan dan otak kiri dalam pembelajaran. Tapi, bukan hanya dosen psikologi saja, tapi tenaga pengajar lain pasti yang belum menerapkannya.
Kita kembali kepada dua tempat kuliah tadi. Kadang aku iri juga melihat teman-temanku yang kuliah di STAN, lulus sudah langsung mendapatkan pekerjaan tanpa pusing-pusing mencarinya di luar, jabatannya PNS lagi. Kehidupannya bisa dijamin dah bermodal. Untuk melamar seorang pujaan hati pun, udah ga minder
Si PNS : Pak saya mau ngelamar putri bapak.
Bapaknya si putri : Hmmm, apa modal kamu memang?
Si PNS : Mmmm, saya kerja sebagai PNS Pak, di departemen ini. Saya dulu lulusan STAN
Bapaknya si putri : Hmmm, sudah siap lahir batin??
Si PNS : Sudah Pak, InsyaAlloh
Bapaknya si putri : Baiklah, kapan mau kita bicarakan lebih lanjut mengenai acara akad nikahnya.
Akan beda dengan lulusan acak adul
Lulusan Acak Adul : Saya mau melamar anak Bapak
bapaknya si anak : Modal kamu apa?
Lulusan Acak Adul : Modal saya cinta Pak
Bapaknya si anak : APA??? MEMANGNYA ANAKKU MAU KAMU KASIH APA? KASIH RUMPUT?? kerjaanmu apa?
Lulusan acak adul : (dengan mental yang udah mulai agak ciut) saya kerjaannya penulis Pak
Bapaknya si anak : Penulis apa?
Lulusan acak adul : mmm, penulis buku, "Cinta Memang Buta"
Bapaknya si anak : Buku apa itu? Pasti ga laku ya?
Lulusan acak adul : Laku kok Pak
Bapaknya si anak : Memang kamu dapat berap duit dari bukumu itu?
Lulusan acak adul : Gak pasti si Pak, pembayarannya tiap bulan ke 6, biasanya saya dapat 3 juta
Bapaknya si anak : APA??? 3 juta untuk waktu 6 bulan, kamu lulusan apa?
Lulusan acak adul : Psikologi Pak (Sambil nyengir)
Bapaknya si anak : Kamu ga saya terima, anak saya mau saya jodohkan dengan lulusan teknik sipil yang sekarang kerja di kontraktor A. Baru tiga bulan saja dia udah beli mobil. Kamu? 6 bulan aja buat makan aja pake lauk rumput
Lulusan acak adul : huhuhuhu
Sebenernya ga setragis itu, tapi kadang realitanya gak jauh-jauh dari itu lah.
Aku selalu kagum dengan orang-orang muda kaya Bong Chandra atau Billy Boen yang meraih suksesnya di usia yang sangat muda. Klo Bong Chandra sosok sukses di dunia enterpreneurship sedangkan Billy Boen sosok sukses di dunia kerja. Tapi intinya sama-sama muda bagiku dan mereka telah sukses di usia muda. Bahkan Bong Chandra usinya gak jauh dariku, setahun lebih tua dariku. Aku mikir, orang-orang ini makan apa sih? kok bisa sukses kaya gitu???
Aku sudah coba makan batu, makan rumput, sampe makan angin pun belum sukses-sukses juga? Beberapa kali aku coba memulai berwirausaha tapi ujung-ujungnya gagal. Pernah aku nyewain buku dan hanya satu orang yang meminjam, ada beberapa yang meminjam tapi sampai sekarang belum dikembalikan. Tapi aku belajar sesuatu dari situ, paling tidak aku sudah memulai sebuah pengalaman. Aku ingin mencoba lagi. Dan mendapatkan uang di samping uang pokok yang biasanya kita dapat dari orang tua itu memang sangat menyenangkan.
Intinya simpel sebenernya, aku ingin lulus tanpa punya sesuatu untuk aku kerjakan. Seperti kata temenku, setelah diwiuda, ada beberapa yang kemudian berpikir, "Selamat Anda resmi menjadi pengangguran" Setidaknya pengangguran untuk beberapa waktu hingga nantinya akna mendapatkan pekerjaan atau meneruskan S2. Berbicara S2 aku udah bilang terang-terangan ke ortu, "Aku ingin S2 dengan biayaya ku sendiri" dan aku pun sadar bahwa S2 itu tidak sedikit biayanya. Tapi aku harap dari hal tersebut aku bisa memiliki targetan tertentu.
Aku ingin kuliah di luar negeri, lebih tepatnya antara Jepang atau Malaysia. Ketika teman-temanku yang kuliah S2 kebanyakan di dalam negeri bahkan yang pandai sekalipun, mereka jauh lebih baik dariku. Tapi, cita-citaku cuma satu, aku ingin melihat dunia ini lebih luas dan belajar hal-hal yang baru.
Aku ingin kuliah di luar negeri, lebih tepatnya antara Jepang atau Malaysia. Ketika teman-temanku yang kuliah S2 kebanyakan di dalam negeri bahkan yang pandai sekalipun, mereka jauh lebih baik dariku. Tapi, cita-citaku cuma satu, aku ingin melihat dunia ini lebih luas dan belajar hal-hal yang baru.
Minggu, 30 Oktober 2011
Si Kologi
Entah kenapa
Psikologi selalu identik dengan tes psikologi, orang ‘gila’, atau Guru BK.
Padahal bidang psikologi itu luas, seluas sawah membentang. Ada psikologi
perkembangan yang membahas perkembangan manusia dari mulai bayi sampe tua
Bangka, psikologi pendidikan yang salah satunya membahas gaya belajar, pskologi
industry organisasi yang salah satunya membahas pengembangan sumber daya
manusia dala lingkup industry maupun organisasi, psikologi klinis yang salah
satunya mempelajari bagaimana kita bisa stress, dan psikologi social yang salah
satunya membahas mengenai engapa orang ada yang agresif tapi ada juga yang suka
nolong. So, selama ada manusia, di situlah psikologi aka nada.
Bentar, tau ga
psikologi itu apaan? Bukan bukan psikologi itu bukan ilmu tentang perdukunan.
Sering orang-orang mengira psikologi itu ilmu tentang perdukunan, meskipun ada
pembahasan di sana. Seperti ketika
ketemu ma serombongan ibu-ibu di stasiun Poncol ketika aku akan pulang.
Tapi sekali lagi
lulusan psikologi itu gak jadi dukun. Bukan. Lulusan psikologi itu bukan dukun.
Baik, gini pskologi dari akar katanya diambil dari psiko inget psiko bukan
posko apalagi psikokamling, bukan, psko diambil dari bahasa Yunani psyche yang
artinya jiwa, dan logi yang diambil dari bahasa Yunani juga logos yang artinya
ilmu, jadi psikologi adalah ilmu yang mempelajari jwa. But, kenyataannya
ternyata dang a tau ceritanya gimana tiba-tiba psikologi adalah ilmu yang
mempelajari tentang perilaku bukan jiwa. Aneh bukan?
Dari yang aku
pelajari sih permasalahannya pada pengukurannya pada konteks ilmiah, yak arena
psikologi ga kaya kimia, kaya ilmu kedokteran, apalagi kaya teknik, so perilaku
dianggap sebagai manifestasi dari jiwa itu sendiri yang bisa diterima oleh
pancaindra manusia. Ya sudah lah kita gak usah berpanjang lebar membahas ini,
selain bukan tempatnya, juga bagi pemula akan semakin pusing membahas hal-hal
tersebut. Aku juga sangat pusing memikirkannya. dan aku bisa stres.
Oya berbicara tentang stres, jangan
dikira orang psikologi itu ga bisa
stress. Aku pernah nanyain ini ke dosen, dan jawaban mereka intinya
sama, bahwa
orang psikologi juga manusia. Bukan dewa atau makhluk apapun. Meskipun
kami memplejari apa itu stres, toh kami tetep keserang stres.
Buat
ngatasin stres dala psikologi ada yang namanya coping, ada dua jenis
coping, yaitu problem focus coping dan emotional fokus coping. Klo kita
stres karena ditagihin utang terus milih cuci mata ke mall itu namanya
emotional focus coping. Klo kemudian kita lunasin tu utang atau lobi
minta keringanan tu namanya problem focus coping.
Berbicara tentang cuci mata, aku punya cerita waktu kuliah filsafat manusia.
Pak Dosen : klo kamu stres suka cuci mata ke mana?
Aku : Gramedia, pak
Pak Dosen : hmmm, boleh dong besok saya ikut? klo kamu (sambil nunjuk temenku sebelah, Amin (namanya Amin))
Amin : (masih bingung), eh?
Aku : kamu klo ge stres suka cuci mata ke mana?
Amin : Oh, pake insto Pak
Aku : (tepuk jidat)
Sontak aja se kelas pada ketawa, seperti biasa, karena Amin tu temenku yang polos banget jadi cuman ngerespon "Apa sich?"
Pernah
suatu kali kuliah Psikologi Eksperimen.Seperti biasa aku dan beberapa
temen cowok lain duduk di depan. Karena kuliah di jam siang jadi suasana
ngantuk itu sangat membahana. Aku paling suka klo lagi ngantuk dengerin
dosen ceramah tu suka ngeliatin mahasiswa lain yang juga ge ngantuk.
Ah, kebetulan Amin lagi tertidur. So, aku senggol... "heh" belum bangun
juga
Dosen yang waktu itu pas ge ngajuin mahasiswa kali aja ada yang mau maju buat laksanain tugas yang diberikan dosen.
Aku : Heh (ga peduli dengan dosen yang masih nawarin mahasiswa, "Iya ayo siapa yang berani?" masih nyenggol-nyenggol Amin)
Amin : heh... (Ngelirik ke aku)
Aku : tu dengerin
Amin : Oh
Bu Dosen : (liat ke Amin) iya Masnya maju???
Amin : (tiba-tiba aja maju, setelah di depan. Celingak Celinguk)
Bu Dosen : Iya ayo
Amin : ??????
Aku : (tepuk jidat)
Amin : ??????
Bu Dosen : (masih nunggu)
Amin ????? celingak celinguk
Kelas : mulai ada yang ketawa
Amin : ?????
Bu Dosen : (Masih nunggu)
Amin : ??????
Bu Dosen : Bisa ga sih?
Amin : Bisa apa, Bu????
Bu Dosen ; Lha, tadi ndengerin ga?
Amin : Tadi saya ketiduran
Aku : (Tutupan muka)
Bu Dosen : Terus kenapa maju?
Kelas : (Ketawa corus)
Amin
: ga tau Bu, tadi saya disenggol-senggol temen saya, kirain saya
dipanggil Ibu (Amin biasanya ahli perkomputeran jadi dia pikir disuruh
benerin komputer)
Bu Dosen : Jangan diulangi, ya sudah duduk sana
Amin : Ih kamu nih
Aku : Lha, aku cuman bangunin kamu, kamu malah maju.
Amin tu temen deketku selama kuliah, same kita dikira anak kembar. Hanya saja Amin tu lebih polos.
Baik
kita balik lagi, jangan dikira orang psikologi ga bisa stres. Misalnya
aku, klo ge stres suka jalan-jalan ke toko buku, meskipun hanya
melihat-lihat saja, sebuah kepuasaan pribadi. Ketika stres itu emang
rasanya menyebalkan banget. Ni buat yang mau masuk psikologi, lu pikirin
lagi deh. Kuliah di psikologi itu penuh dengan tugas dan tugas. Tugas
satu belum selesai, udah ada tugas yang lainnya lagi. Belum lagi klo
harus nyiapin presentasi. Sering banget tuh aku ma temen-temen
sekelompok lembur, meskipun biasanya aku tinggal tidur semua. hwahaha
Karena
itu aku juga butuh tempat katarsis. Katarsis itu penyaluran lain buat
melampiaskan emosional kita.Misalnya nih, aku ge marah pengen nonjokin
orang. Daripada beneran nonjokin orang aku aku lebih baik nonjokin tiang
listrik depan rumahku. Ato klo lagi stres, ada yang sukanya teriak.
Nah, tempat katarsisku tu salah satunya ya nulis ini. Kata siapa orang
psikologi ga bisa stres?Ni aku buktinya. "Semua kita punya potensi untuk
stres," kata temenku, "hanya saja ada yang bisa memenejnya dengan baik
dan ada yang tidak."
Klo
ditanya mana yang lebih baik antara coping emosional atau coping
problem, jawabanku tegantung. Iya beneran tergantung, lu ambil tali
terus lu gantung diri aja. hahaha... ga ga maksudku klo lu bisa langsung
nyelesein tu sumber masalah (stressor) ya diselesein, klo belum bisa
minimal emosional lu di perbaikin dulu, sehingga bisa lebih bijak
nantinya.
Banyak
kok anak psikologi yang ga bisa ngatasin stres atau masalahnya sendiri.
Aku dapet cerita dari temenku di fakultas psikologi lain dan juga
psikolog tempetku magang, ada juga lho mahasiswa psikologi yang jadi
pasien di RSJ, atau harus dirujuk ke psikiater atau psikolog. Semuanya
sangat mungkin, karena kita tetap manusia biasa. Aku juga bukan Doraemon
yang klo ada apa-apa aku dapat ngeluarin barang-barang aneh. "Pak,
istri saya katanya selingkuh" "baiklah ibu, "Kamera Pengitai Tidak
Terlihat".
Kadang
juga orang dateng ke psikolog atau minimal curhat ke anak psikologi
cuman ingin curhat aja. Nah, intinya kadang emang tiap orang ingin
didengar, termasuk aku sebagai manusia.
Kuliah Apaan nih?
Awal mula kuliah
di psikologi, mata kuliah yang pertama kali aku pelajari adalah Antropologi. Di
psikologi, tidak hanya mata kuliah tentang ke-psikologian yang dipelajari, tapi
ilmu-ilmu lain yang berkaitan juga dipelajari seperti Sosiologi, Filsafat
maupun kuliah penunjang lainnya seperti Pendidikan Agama, Bahasa Inggris, sampe
kewarganegaraan ma pancasila juga dipelajari. Jadi jangan dipikir lulus SMA
bahagia banget dah gak ketemu ma UUD 1945, justru semakin diperdalam. Ujiannya
lisan lagi, aku sempet harus ngulang dua kali. Huuf… semuanya merupakan pondasi
dalam wawasan ilmu psikologi.
Nah, kuliah
Antropologiku ini sangat menyenangkan. Aku dan beberapa temen yang aslinya
berasal dari IPA, cenderung cukup bingung untuk mengikuti. Bagaimana harus
mengenal apa itu kebudayaan dan kawan-kawannya? Sampai harus buat paper
mengenai desa tempat tinggalnya. Asyik banget akhirnya aku bisa memiliki kesempatan
untuk mengetahui bagaimana asal-usul desaku.
Yang unik dari
kuliah Antropologi adalah pak dosennya. Dosennya unik banget, udah sepuh tapi
wejangan-wejangannya sangat berarti bagi mahasiswanya. Filosofi hidupnya pun
begitu bulu kuduk merinding disko. Misalnya bagaimana filosofinya terhadap
perempuan? Perempuan baik dia jelek atau cantik itu sama saja kalo lampu kamar
dimatiin.
Suatu saat di
kuliah, “Kalian tau ga rambut di bawah hidung itu apaan?”
“Kumis” Jawab
mahasiswa serentak
“Klo di sini”
sambil nunjuk dagu
“Jenggot”
“Nah kalau di
kelamin?”
Buset ni kuliah
apaan?
Mahasiswa cuman
hening, aku yakin mereka itu tau hanya saja tidak mau ngomong. Tabu banget
untuk dibicarakan.
“Masa ga tau? Ya
sudah namanya J****t, sekarang kalian tau ga? Klo yang di P*n**t tu apa
namanya??”
Aaaaarrrggghh,
apaan nih kuliah? Kali in beneran aku gak tau. Yang tau pun aku yakin akan
sangat malu untuk menjawab.
“Ayo, ga ada
yang tau?? Ta kasih kata kuncinya depannya huruf C. Ada yang tau?”
AKu
geleng-geleng kepala
“Ya sudah huruf
terakhirnya T, ada yang inget?”
“…..”
“Ah, gimana sih
kalian ini?” beliau kemudian menuliskannya di whiteboard besar-besar CIWET. Aku
yakin di antara pembaca banyak yang belum tau, jadi aku tuliskan saja.
“Ooooh”
Aku mengenal
kepanjangan dari KNPI juga dari si bapak. Bukan, bukan KNPI lembaga kepemudaan
itu. Tapi Kissing, Nepping, Putting, Intercorse. Ah, bodo amat apakah dengan
aku menjawab, nilaiku akan menjadi A? Atau apakah ini akan menjadi soal di
ujian mata kuliah Antropologi nanti?
Di waktu lain,
temenku cewek yang agak gemukan juga ada yang pernah ditanya,
“Mba, kamu masih
perawan?”
Aaaa, apa
urusannya???
Lebih aneh lagi
klo waktu ujian. Soalnya itu bikin aku tertidur di waktu ujian. Bukannya saking
mudahnya, tapi saking banyaknya dan harus sesuai dengan buku teks. Gimana aku
ga stress?? Harus ngapalin satu-satu gitu. Uniknya si bapak ini, klo
mahasiswanya lagi ujian, suka ditinggal keluar ruangan. Sontak aja beberapa
mahasiswa jadi kesenangan dan mulai melancarkan aksi mereka masing-masing. AKu
yang kebetulan mendapatkan bangku ujian di belakang, secara tak sengaja
menemukan sebuah wajah yang tiba-tiba terlihat di balik kaca ruangan. Si Bapak
ternyata mengintip dari luar. Hwahaha, ada-ada saja ni si Bapak.
Secara personal aku sering mendapatkan wejangan
dari si Bapak. Terutama wejangan untuk memilih jodoh yang benar dan bagaimana melakukan intercource yang baik. Seperti misalnya suatu ketika aku di mengikuti sebuah acara di kota Malang. Pagi-pagi berniat untuk cari udara segar, eh malah ketemu si bapak.
"Lagi, ngapain?"
"Lagi cari udara segara aja, pak"
"Tadi saya habis jalan-jalan, eh Anda sudah menikah ya?" ga tau tiba-tiba saja pembicaraan menjadi ke arah seperti ini, dan aku sepertinya sudah tau alur pembicaraan ini akan ke mana?
"Eh, belum pak"
"Ah, masa?"
"beneran pak"
"Gini, klo nanti Anda menikah, lebih baik Anda ga usah milih pekerjaan yang berat-berat, pilih kerjaan yang membuat Anda lebih lama di rumah. Pengalaman saya itu lebih enak karena bisa berduaan dengan istri"
"...."
"Waktu saya pertama kali nikah, juga gitu. Berduaan dengan istri di rumah. Uh, rasanya enak banget" sambil ngacungin jempol
",,,,"
"Saya pertama kali nikah ..." obrolan berikutnya berisi hal-hal tabu tentang tips-tips melakukan hubungan suami istri, bukannya gak mau berbagi tapi lamanya itu lho yang aku cape ngetik, hwehehe
"Ni, nanti klo Anda masih di Semarang, terus ketemu saya, Anda akan saya tagih"
"Tagih apa, Pak?"
"Eh, Anda kuat berapa lama??"
Hwaaaa, gubrag-gubrag, klo gitu aku ga mau tinggal di Semarang lagi nanti klo dah punya istri.
Tapi, bentar lagi beliau mau pensiun, aku dan teman-teman sering bicarain beliau. Tentang cerita-cerita lucunya dan wejangan-wejangan khasnya.
"Klo habis ngelakuin gituan, bagi yang laki-laki Anda harus bilang terima kasih ke istri Anda, "Terima Kasih, kamu memang luar biasa""
Aduh, kita bakalan kangen sama si bapak.
Sabtu, 29 Oktober 2011
Training-Trainingan
Dunia psikologi
itu ga jauh dari yang namanya pelatihan, training, atau semacamnya. Menurut
materi yang aku dapet sih, pelatihan itu adalah…
Aku udah sering
ikut pelatihan ini dan itu. Mulai dari yang menangis meratap-ratap hngga yang
jingkrak-jingkrak loncat-loncat kaya pocong main lomba balap karung. Asyik aja
sih ikutan kaya gitu. Meskipun memang dalam realita efek dari pelatihan itu
biasanya cuman sampe 3 atau 4 hari. Misalnya habis ikut training motivasi
menjadi pribadi yang tangguh luar biasa. Pelatihan yang sampe nginjek-nginjek
beling, mpe ditabra-tabrak ma container (ya terakhir ini kayae ga mungkin deh).
Pasca pelatihan
itu, basanya seseorang akan menjadi penuh semangat, penuh gairah, penuh apalagi-lah
namanya. But, 3 hari atau seminggu orang yang tadinya merasa dirinya seperti
Hulk jadilah dia seperti pecundang lagi. Meskipun ada konsep-konsep pelatihan terbaru
yang mampu memberikan efek lebih lama lagi. Tapi, meskipun seperti itu, ada hal
lain yang luput, paling tidak dari pelatihan itu ada sebuah perubahan dalam
pola pikir. Orang yang tadinya berpikir bahwa sesuatu mustahil, bisa saja dia
akhirnya akan mendapatkan sebuah pemikiran baru bahwa tidak ada yang tidak
mungkin selama kita berusaha. Salam Supri!!!
Well,dari semua
pelatihan yang pernah aku ikuti, aku paling suka ma pelatihan hypnotherapy.
Bermula dari rasa penasaranku mengenai bagaimana Uya Kuya dapat membuat orang
jadi jujur-jujuran suka ma cowok, bagaimana Romy Rafael dapat menghipnosis
orang untuk percaya bahwa daun itu adalah uang, dan lain sebagainya ahli hypnosis
yang telah membuat kita sebagai penonton dapat tertawa-tawa melihat ulah para
korban. Sebenarnya ada apa di balik semua itu? Apakah ada jin yang ikut
nimbrung? Atau ada bencong yang tiba-tiba muncul di balik kamera sehingga membuat
korban seperti tertidur?
Kali aja aku
bisa jadi tukang hypnosis yang kaya di tipi-tipi itu. Paling ga hypnosis bapak
biar dapat tambahan uang bulanan, haha. Tapi ketika membaca brosur sebuah
pelatihan hipnoterapi yang bertuliskan, “Uang yang Anda keluarkan masih sangat
kecil dibandingkan banyaknya orang yang akan Anda bantu” hmmm, ada tujuan lebih
mulia lagi sepertinya daripada membuat orang tertidur dengan enakut-nakuti pake
bencong. Tak apalah akhirnya pun aku mengikuti pelatihan tersebut.
Kebetulan
seorang teman menjadi EO suatu pelatihan Hipnoterapi, sehingga aku pun
memutuskan ikut. Meskipun aku mengakui bahwa harga untuk mengikuti pelatihan
itu cukup mahal bagi kelas mahasiswa kroco seperti aku. Tapi tekadku bulat
untuk mengikuti pelatihan itu. Berbekal tabungan yang aku miliki dan hasil
pelobian ke orang tua, akhirnya aku ikut. Sebenernya bukan pelatihan hipnoterapi
yang mahal bisa mencapai nilai 1 juta lebih (meskipun sekarang ada beberapa
pelatihan hipnoterapi yang sangat terjangakau di bawah 1 juta. Pelatihan
motivasi lain misalnya ada yang bisa mencapai angka 10 juta, atau paling murah
adalah gratis. (Mataku akan berbinar-binar jika mendengar kata-kata itu, haha).
Pertama kali aku
mengikuti tu pelatihan, bareng adek-adek angkatanku yang ternyata juga ikut. Satu
kelas ada juga yang bapak-bapak, ibu-ibu, ma mas-mas. Yap, ada yang disuruh
ikut, ada yang aku ga tau kenapa ikut? Tapi, sebagian besar orang yang ikut
pelatihan ini atau semacamnya tertarik karena penasaran dengan gaya Uya Kuya,
dkk di televise.
Workshop hari pertama
dengan dr.Angga membuatku berpikir, hmmm, baiklah nikmati saja apa yang ada
saat ini, daripada kita tidak mendapatkan apa-apa. Hari pertama bersama
beberapa adek-adek angkatanku berserta peserta lain, ada yang dari Surabaya,
ada juga yang dari Madiun mpe Purwokerto. Hari pertama ini materinya berkisar
pada pemahaman mengenai teori dasar hipnoterapi, sejarah, dan bagaimana
prosesnya. Agak kikuk pertama kali nyoba prakteknya, dan harus membaca
mantranya alias scriptnya. Membuat partner praktekku hampir tertidur karena aku
terlalu lama menghipnosisnya. Klo orang dah beneran tidur akan sulit untuk
mensugestinya. Mau kita bilang, “rileks…rileks” dia udah sangat rileks.
Aku lupa alasanku
mengikuti pelatihan saat itu, tapi biasanya ini yang menentukan seberapa kita
akan belajar sesuatu nantinya. Klo alasannya cumin bar dapet pengetahuan, ya
akhirnya kita cumin tahu doank. So, tanyakan pada dirimu apa alasanmu untuk
belajar? Apa pula alasanmu untuk membaca tulisanku ini?
Hari kedua, kami tidak
menginap yang telah dikira oleh salah seorang adek angkatanku, dia sampe bawa
pakaian buat ganti segala, hedheeh. Hari ini adalah praktik, dari pagi mpe
menjelang siang aku dan partner yang kebetulan adek angkatanku sendiri
paliiiing lama. Yang lain dah pada ambil coffe break, aku ma partnerku masih
ber-rileks-rileks ria. Celingak-celinguk, haaa udah sepi ni ruangan. Praktek
kedua adalah menghipnosis ibu hamil, ibu hamil yang khusus didatangkan entah
dari mana, karena tiba-tiba saja ada itu kami hypnosis. Kali ini berkelompok
karena ibu hamilnya cumin ada dua. Secara bergantian, kami menghipno si ibu,
asli aku sangat aneh dalam sesi ini, ketika harus bergantian, rasanya ga asyik
banget, “Setelah ini akan dilanjutkan oleh rekan saya” begitu terus mpe sejumlah
orang dalam satu kelompok yang berjumlah sekitar 5 orang, jadi kaya acara
berita pagi aja.
Abis ngebuat tu ibu
hamil kebingungan karena dibuat praktik, dan aku mengira tu ibu-ibu past
bingung, “Saya mau diapain? Hah dipinosis kaya di tipi-tipi itu? Aduh gimana
nih? Aku ga mau disuruh-suruh apalagi ntar disuruh pura-pura ngelahirin.”
Setelah itu kami dihipnosis bareng, ya kaya dikasih motivasi gitu. Awal-awal
disaat ruangan yang remang-remang, dan mata kami tertutup sedang
rileks-rileksnya serta denger dr.Angga menyebutkan kata cahaya. Entah kenapa
tiba-tiba terang aku rasakan meskpun mataku masih tertutup. Yang aku ketahui
ternyata yang membuat terang itu karena lampu ruangannya dinyalain. Oh, ini tho
cahayanya?
Sngkat cerita,
dua hari berlalu dan kini workshopnya dah selese, aku dapet sertifikat
kepesertaan plus kenggotaan IBH (Indonesian Board Hipnoterapi) dan menyandang
gelar CH (Certified Hypnotist), kini aku tau klo CHt itu bukan kependekan dari
Chating, melainkan Certified Hypnotherapist. CH Diberikan untuk yang telah
menyelesaikan program basic, CHt diberikan kepada yang telah menyelesaikan
program Advance, ada juga MHt (Master Hypnotherapist) dan CI (Certified
Instructor) yang aku masih bingung bagaimana mendapatkannya? Wuiih, serasa lahr
kembal setelah mengikuti workshop itu. PD yang aku rasakan waktu itu, udah
punya skill baru.
ABis ikut
pelatihan itu, aku jadi mulai tergila-gila dengan yang namanya hypnosis.
Rasanya ingin ikutan pelatihan sejenis lagi. Wuiiih, jadi gila pamphlet, setiap
ada pamphlet bertuliskan “WORKSHOP HIPNOSIS/ HIPNOTERAPI” aku langsung
membacanya, tapi biasanya akan aku urungkan jika ternyata tabunganku belum
cukup. Pernah ada yang cuman 200an aku langsung daftar, tapi sedih ga jadi
ikut. Huhuhu. Bukan di pamphlet saja, tapi juga searching lewat Om Gugel. Ada
bermacam-macam workshop sejenis dengan kelebihannya masing-masing, mulai dari
harganya yang murah, hingga yang bener-bener mengajukan kualitas.
Gak puas ikut sekali,
aku pun mengikuti pelatihan lainnya atas rekomendasi dari dosen. Dengan tingkat
basic lagi. Beberapa bulan sekitar bulan
April, kelas dr.Gunawan diadakan lagi di Semarang. Aku pun mengikutinya, tapi
kal ini, BCH hanya satu hari (kok cepet banget ya???) Tuing tuing tuing tanda
Tanya tetep berada di atas kepalaku hingga aku tiba di TKP. Surprise… dr.Gunawan
langsung menyambutku, kemudian diajaknya aku makan. Dasar mahasiswa kampungan,
ambil makan sebanyak-banyaknya. Huehehe…
Peserta hari itu adalah
terbanyak selama sesi pelatihan, yaitu 3 orang. Aku, satu ibu-ibu, dan satu
lagi cewek yang dah kerja, yupz lagi-lagi aku jadi mahasiswa kacang sendirian.
Sebenernya materinya memang gak jauh beda ma materi kelasnya dr.Angga kemaren,
tapi bagiku ini emang pengulangan biar lebih manteb. Hal-hal yang aku belum
mudeng, kini aku semakin paham (thanx doc). Pelatihannya memang satu hari, tapi
ternyata akan dilanjut dengan Advance besoknya 1 hari juga. Aku sudah menolak
untuk tidak ikut dengan alasan klasik gak punya dana. Tapi pak Eko, tetap
memintaku untuk ikut, “Tu gampang entar saja, ikut dulu aja” Bayanganku, “Wah,
asyik gratis nih” (Mahasiswa kampong mode on).
Sesi ACH hari
berikutnya, ternyata lebih banyak yang datang, ternyata ini para alumni-alumni
BCH sebelumnya. Waktu sesi perkenalan, aku bilang dalam hati, “Wuiiih, keren
amit nih orang-orang, ada yang dokter spesialis, ada yang penulis buku”
akhirnya dengan ke PD-an,aku juga gak mau kalah, “Saya juga lagi mau nulis
buku” asli ni aku malu-maluin banget, mau nulis buku apa coba? Ya nulis buku
tulis juga gak papa…
Sesi ACH, isinya mung
praktik dan praktik, dari teknik satu ke teknik yang lain. Ketika sesi hipno
kelompoknya, di sinilah aku berkenalan dengan kalimat, “Because you are the
light and the light is you.” Dan kali ini sesuatu banget karena gak ada acara
“nyalain lampu.” Habis tu sesi makan
malam, dan di sinilah aku akhirnya diajak ngomong empat mata bersama
dr.Gunawan. Beliau cerita mengenai rencana mengadakan regenerasi di IACH,
sehingga akan diadakan workshop master sekitar akhir April. Beliau berharap aku
ikut, haduuuh piye ya???
Pada sesi “Siapa yang mau diselesaikan masalahnya?”
karena gak ada yang angkat tangan, akhirnya aku sekali lagi PD mengajukan diri.
Aku curhat mengenai kehidupanku yang menyedihkan, huhuhu… mpe disuruh
prestasiku apa aja, “Tu liat kan perubahan ekspresinya” kata dr.Gun, “aduuh,
aku jadi malu”kataku dalam hati.
“Baiklah, mas Imam
sekarang rileks, tutup matanya, rileks” ucap dr.Gunawan. Dan beliau sukses buat
aku nangis ga berhenti-berhenti. But, satu keuntungan yang aku rasakan adalah
aku gak usah ikutan praktek person to person seperti yang lainnya. Huhuhuhu aku
nangis gak berhenti-berhenti juga. Yap, akhirnya selese juga ACH pada hari ini.
Aku masih mikir, “ikut
Master gak ya?” Aku harus bayar ya? Gak bisa gratis kah? Beberapa kali aku coba
calling dr.Gunawan via FB tapi gak ada respon. Hmmm, hingga hampir hari H, aku
gak mendapatkan jawaban pasti. Yap, mungkin meang belum rezekiku.
Beberapa hari setelah
master itu aku ikut kelas hypnotherapy lagi yang diadakan oleh pak Asep, kali
ini di Cirebon, wah deket nih ma kotaku. Sekalian mau Tanya-tanya tentang
forgiveness. Akhirnya aku pun ikutan. Aku gak nginep aku laju setiap pagi
dengan bus, dan pulang malamnya dengan bus lagi. Materinya memang gak jauh beda
lagi meskipun materinya pak Asep terbilang unik bagiku. Hanya saja pesertanya
yang bikin aku keki, karena sudah pada berkeluarga, sehingga kada omongannya
gak jauh-jauh dari masalah kaya gituan.
But, selama dua hari
itu aku menikmati workshopnya, aplagi sudah dua kali aku mengikuti pelathan
yang sama, sehingga di workshop ini aku memperhalus apa yang sudah aku
dapatkan. Pasca workshop aku sering mraktekin ke adek angkatanku, haduuuh
pokoknya gitu banget lah.
Gagal ikut master, aku
pun ingin mengikuti NLP yang diadakan oleh dr.Gunawan juga. Dan awal Juli
dr.Gunawan ke Semarang lagi mengadakan BCH selama dua hari. Dengan insting
gratisku, akhirnya aku pun ikut, itung-itung kompensasi dari BCH satu hari yang
dulu. Kali ini aku bersama para dokter sebagai peserta, ada juga sih yang
mahasiswa angkatan 2005. Merasa udah pernah mengikuti workshop di 3 orang yang
berbeda, aku pun jad orang yang sok tau, cas cis cus. “Jangan percaya ma
Faisal” celetuk dr.Gunawan. aku,”Hihihi” hweee malu banget deh aku. BCH kali
ini aku sangat menikmati daripada sbelumnya.
Akhir pelatihan, “Kata
pak Eko, kamu mau ikut NLP?” “Iya Pak” kataku. “Ya sudah entar email saja” Tak
lama kemudian aku pun mengimail dr.Gunawan. Iya beliau memberikan kemudahan
untuk aku mengikuti kelas NLP, but ada beberapa syarat yang aku lupa dan aku
merasa gak bisa melakukannya. Tapi aku masih berusaha. Seperti biasa, hingga
hampir hari H, aku pun tak mendaptkan kesempatan untuk mengikuti kelas NLP
dr.Gunawan. huff…
Ya sudahlah, mungkin
aku belum saatnya aku bisa mengikuti kelas-kelas dr.Gunawan. Kadang iri juga
melihat para alumni IACH master. Kenapa aku gak ikut ya dulu?? Akhirnya
keinginanku untuk semakin memperdalam hypnoterapi dan NLP pun sedikit demi
sedikit luntur. Aku serasa jadi orang buangan lagi. Huhuhhu
Tapi, aku sedih, karena wilayah kerja ini bukan hanya ditekuni oleh orang-orang psikologi saja. Ada orang-orang dari bidang lain mulai dari teknik, ekonomi, mpe peternakan segala. Mau buat apa coba?? Radionya mau dihpnosis? Ayamnya mau dihipnosis biar ga kalah ma buaya?? Ya tapi bagaimanapun, ilmu psikologi itu ilmu tentang manusia itu sendiri, jadi setiap manusia juga punya hak untuk mempelajarinya. Ya segitulah
perjalananku dengan cerita bernama hipnoterapi, ada yang mau aku hypnosis pura-pura
jadi bencong???
Bunuh Diri
Suatu subuh, aku baru bangun dari tidurku. Benda yang pertama kali aku pegang adalah handphoneku, karena tu henpon yang dah bikin aku terbangun. Aku dapet sms dari temenku dari fakultas teknik. "Adek angkatanmu ada yang bunuh diri ya?" seperti itu smsnya kira-kira. "eh?" aku tak langsung membalas, tapi mengumpulkan nyawaku dulu dan langsung ke belakang (tepatnya kamar mandi) untuk merenung sebentar (bilang aja mau menunaikan tugas suci :p ). "Hmmm, siapa yang bunuh diri? Kok ada ya anak psikologi yang gituan? Aku pikir aku mahasiswa paling stres dan tergalau di kampus. Ternyata masih ada yang lebih stres dan lebih galau dari aku? Huuh, aku tersaingi"
Abis sholat aku sms adek angkatanku yang lain, "Eh, temenmu ada yang suicide ya?" lamaaaa banget aku nunggu balesan ni sms, atau bisa saja dia yang ternyata bunuh diri. Aduh gimana nih? Masa anak cupu kaya dia bunuh diri cuman gara-gara gak dapet jatah makan hari ini? Kemungkinan lan aku mengira ni bocah lagi membuat pulau seperti biasanya. "Se ya Mas, aku ta buat pulau" Wuiiih, dah kaya dia mpe buat pulau segala, tapi gak mungkin gak mungkin. Pulau yang dia maksud adalah ilernya yang menetes sewaktu dia tidur dan membentuk pulau di bantalnya. Ini kemungkinan yang lebih baik. Baru setengah 7 pagi dia bales smsku, "Ga ada Mas?" Huuh? Syukurlah ternyata bukan dia yang bunuh diri.
Sore hari aku dapet tagan dari temenku di facebook, yang ternyata berisi tentang kabar berita itu. "Oh ini ternyata tho?" Setelah aku baca ternyata masalah keluarga, ada sesuatu dengan ibunya. Setelah itu aku baru memesej via FB temenku yang sms pagi-pagi buta itu. "Ternyata bukan anak psikonya tapi pacarnya" "Iya, padahal pacarnya anak psikologi?" aku gak mau menjawab ini, haha
Beberapa hari kemudian aku bertemu dengan beberapa temen dari fakultas lain sedang mebicarakan hal tersebut.
"Bukan, beneran aitu anak psikologi yang bunuh diri"
"Eh, bukan yo, tu pacarnya"
"Kata temenku anak psikologi"
"Bukan, coba tanya Faisal"
"Iya pacarnya"
baru pada diem. Beberapa hari ke depannya lagi, aku bercerita tentang adek kelasku yang pembuat pulau itu, namanya Zaldi. "Bukan Mas, yang dimaksud ibu itu pacarnya" "Ooooh" Haduh masalah cinta. Emang dari dulu cinta selalu membuat kerjutan. Aku kadang sering membayangkan aku mati klo lagi dapat masalah besar, terutaa yang satu itu. Tapi, matiku ingin lebih elit, ga pake bunuh diri-bunuh dirian. Matiku karena tertabrak mobil, jatuh dari pesawat, dibunuh, atau sakit sekarat. Ga pake acara gantung diri pake pohon cabe.
Kadang orang yang berharap mati ketika ditimpa banyak masalah, merasa ingin mendapatkan perhatian. Bahwa orang-orang akan menyesali perbuatannya jika dia mati. Semua orang ingin diperhatikan. Semua orang ingin dihargai eksistensinya sebagai manusia. Tapi, memilih untuk bunuh diri bukanlah cara yang elegan. Meskipun di beberapa kebudayaan bunuh diri merupakan sesuatu yang lebih terhormat. Baiklah itu masalah kebudayaan. Tetapi, jika kemudian sebagai rang yang mengakui beradaan Tuhan, sepertinya sangat konyol klo memilih bunuh diri.
Bagi orang yang berkeinginan untuk bunuh diri cobalah lakukan cara bunh diri yang lebih konyol, seperti gantung diri di pohon ketimun, ganti baygon dengan minyak goreng, yang mau terjun ke sungai gantilah dengan terjun ke selokan, yang mau ditabrak kereta api gantilah untuk ditabrak odong-odong. Sepertinya itu jauh lebih baik.
Sekali lagi pikirkanlah lebih jauh mengenai hal ini. Apalagi klo hanya karena cinta sesama manusia. Asli ga elit banget. Aku pernah merasa galau karena masalah cinta kaya gitu, serasa dunia kaya hampa banget. Iya, emang rasanya pengen matiii aja. Beruntunglah aku diajak bertamasya ke Rumah Sakit Jiwa selama 17 hari. Di situlah ternyata aku belajar banyak mengenai makna cinta. Banyak pecinta-pecinta yang hidupnya berakhir menjadi pasien di RSJ itu. Masing-masing dari kita masih punya masa depan, tapi kadang masa depan itu kita bunuh sendiri melalui pikiran kita. Jangan hanya karena cinta pada lawan jenis yang terkadang belum tentu jadi pendamping hidup kita, kita malah membunuh masa depan kita.
Mengenai hal ini aku jadi teringat film yang belu aku tonton, berjudul Patch Adams. Orang yang sempet mengalami depresi kemudian masuk ke RSJ, dan sama belajar mengenai makna akan sesuatu di sana. Kemudian dia mengambil ilmu kedokteran yang berinovasi mengenai suatu pengbatan dengan tertawa. Yapz, pasti ada sesuatu, pasti ada hal lain di balik apa yang terjadi. Untuk mereka yang terlibat dalam bunuh diri seseorang, bersabarlah, belajar untuk memaafkan diri sendiri dan memohon yang terbaik dari Tuhan.
Senin, 24 Oktober 2011
Foto Gila-gilaanku 1
Maraknya kejahatan yang terjadi akhir-akhir ini, sering membuat keresahan di negara ini. Hadirnya berbagai macam penjahat...
Masyarakat dibuat sengsara sehingga terpaksa makan dedaunan
Para superhero sudah tidak sanggup lagi menghadapi berbagai macam kejahatan
Akankah datang superhero baru, menghadapi persoalan yang ada saat ini??? Superhero yang sederhana tidak neko-neko, suka menabung, rajin mengaji mungkin, hmmm...
To Be continued ...
| Maling-Zilla |
Akankah datang superhero baru, menghadapi persoalan yang ada saat ini??? Superhero yang sederhana tidak neko-neko, suka menabung, rajin mengaji mungkin, hmmm...
To Be continued ...
Jumat, 21 Oktober 2011
Trauma Kereta Alay
Hwaaa, semalem habis ujan-ujanan ma Amin bis makan mie ayam, dan bajuku akhirnya sukses basah kuyup semua. Berhubung aku berpikir efisien so,celanaku aku jemur untuk aku pakai besok pagi ajah. haha Keren Boy, ujan-ujanannya... ^^b
Tadinya sabtu ini aku mau pulang lagi pagi-pagi ini, abis itu turun di Pacific Mall makan (apa minum ya?) Es Teller 77, maen-maen baru klo dah sore aku baru balik ke rumah. But, sepertinya gak jadi, coz 'dipaksa' ma MG (Mba Ganda) buat direbus sambil bawa panci (aku sebut ini Tragedi Teko Berujung Maut), hahaha... Aku gak terima ma Ririn (adek angkatan 2009-ku) yang bilang katane mau makan-makan ma MG sambil acara"kader-kaderan gitu dech", dan nyatanya aku yang akan direbus, dan parahnya aku suruh ngomong ntar dihadapan adek-adekku yang masih lugu-lugu itu. Ah, ngomong apa ya? cerita Harry Potter aja kali ya???
Sepertinya aku harus mengundur acara pulangku, semalem aku SMS-an ma Apri (temanku sespesies ujung kulon jawa tengah sana), nanyain tentang Kereta Api bernama Kaligung Ekonomi, terakhir aku tau, tu kereta harusnya sudah beroperasi sekarang pasaca Lebaran, tapi hampir sekarang gak ada kabar. (klo smsku terkesan normal, dan Apri terkesan alay, bukan berarti aku lebih normal, hanya saja henponku gak bisa nyimpen smsku yang telah terkirim, jadi aku tulis di sini smsku yang seingetku aja) ^^v
Aku : nanya dong, Kaligung Ekonomi beneran dah gak ada ya?
Apri : Dlu pas sptmbr, blgx b'operasi lg okt, ni dh okt, dgr2 bru nov b'oprasi lg... oiy,yg bsns it ketoe skrg d btasi kuota pnumpangx...
Aku : Bisnis?? Kereta Alay itu?
Apri : Eh? Alay sblh manax? wkwk...
Aku : Iyalah, sekarang keretanya aja gak lebih bagus dari ekonomi?? tapi, masih dipaksain berkelas bisnis? Ni kaya anak alay yang 'kampungan' tapi maksain gayanya biar keren. Lebih baik aku naik ekonominya aja. Ya itu bcandaanku ma sepupuku aja. Bukan mau nyindir fans-nya. hihi --v
Apri : haha, emang bgtu adax, sya jg mengakuiny,,, :D emang ekonomijaya bgt... naek yg bisnis kaligungmas dunxit bru joss, tp cm1gerbong,,, :D
Aku : hah?? 1 gerbong?? kereta apa lagi ni? bukane sendiri-sendiri ya?
Apri : It, krta bisnis jlnx gandeng ma gerbong eksekutif kaligung mas,,, cm 2,5jam smrg-tgl, nyaman (klo g penuh)... eh g 1ding, dua gerbong :D
Aku : Jangan-jangan tu kereta eksekutif warna ijo yang aku liat waktu nongkrong di Bandara (elit banget ya pake nongkrong di Bandara?). Kereta ni tambah alay lama2 aku ga naek??
Apri : Hus sembarangan... yg ijo yg km liat it brti mang KALIGUNG bisnis, nah yg q maksud, beda lg, it sbnrx jdwal eksekutif ac KALIGUNG MAS tp dtmbhn gerbong bisnis beneran (bkn yg alay), non ac... d jajal ae, maknyus g pke brenti2 d bandara ap lg d tgah sawah... :D
Aku : Ah, udah ah tambah geli aku membayangkannta...
Apri : Jgn d bayangkan, imajinasimu terlalu tinggi, repot... :D
| Kaligung Alay Sedang Melaju di Depan Bandara A.yani |
Setelah ini sepertinya aku gak jadi naik kereta tu ntar klo pulang. Bener kata Apri, imajinasiku terlalu tinggi. Aku akan lebih gak kuat lagi klo ternyata tu Kaligung, Alay beneran. Keretanya pake Poni, kaca depannya pake kacamata gede. Da tulisan QaLy9unk exprezzzz. Tiketnya
4lu, leh knln ga?
no.qursy u : 4Cakep
gErbOn9x : 2 sweet
CeLam4t men1km4ti
Muaaah
Xixixixi
AAAAARRRRGGGHHHH......
Tulisan ini bukan bermaksud menyindir, klo ada pihak-pihak yang terkait. Hanya saja, ini curaha hatiku (ce ileee), curahan hati seorang pelanggan Kaligung itu yang kini Trauma untuk berpergian antara Semarang-Tegal atau sebaliknya dengan kereta itu. Sehingga sekarang pelanggannya (yaitu aku) memilih menggunakan bus, yang notabenenya agak mahal dikit, tapi sangat nyaman.
Iya Trauma, soalnya waktu itu (entah kapan aku lupa?) aku berniat pulang ke rumah dari perantauanku di Semarang. Seperti biasa aku menggunakan Kaligung Bisnis sore. Dan kebetulan ternyata aku sekuris dengan teman SMAku yang kuliah di UNNES. Awal keberangkatan sih gak ada masalah. Aku sudah kontak ayahku buat jemput di stasiun Tegal. Ya perjalanan awal dan tangah sampai Pekalongan pun lancar, seperti biasanya.
Namun, setelah mau masuk ke Pemalang tu kereta tiba-tiba berhenti. Aku kira ada kereta mau lewat. Tapi kok lama banget gak jalan-jalan ya? Ini aneh. Dan bener saja ternyata BAN KERETANYA BOCOOOR... Ya gak lah.. lebih tepatnya lokomotifnya mati. Huhuhu... padahal itu dah malem sekitar jam 6an gitulah. Samping kanan dan kiri yang dilihat cuman sawaaaah semua. Aduh, klo tiba-tiba ada perompak gimana ya? dan kita disandera??? (ni terlalu berlebihan)
Ya sudah akhirnya aku dan penumpang lain harus menunggu, sedangkan ayahku sudah berkali-kali mengontak aku. Aku lihat jam, ternyata sudah jam 9 malem, aku ulangi JAM 9 MALAAAM. Gila... apa perlu ni kereta kita dorong aja ya?? Tak berapa lama kemudian ada loko datang dan membawa kereta naas itu. Tapi gak jauh, hanya sampai stasiun terdekat saja. Dan kami harus menunggu lagi. Aduh seharusnya jam 7 tadi kami sudah sampai di tegal. Sekarang???
Aku udah mulai boring dan pasrah apa yang akan terjadi. Dan betul saja ternyata jam 10an kereta itu diderek lagi pakai loko lainnya. Dan hampir jam 11 kami baru sampai di Stasiun Tegal. huhuhuhu ... Bayangin aja, jam 5 sore mpe 11 malem??? Gimana aku gak stresss???
Itu terakhir aku menggunakan jasa Kaligung Alay itu, meskipun seingetku aku pernah mencoba mengatasi hal itu, yaitu traumaku, tapi belum ada efek berarti.
Seperti sebelum Ramadhan kemaren, ibuku akhirnya berhasil meyakinkan aku untuk menggunakan Kaligung lagi ke semarang, "Coba yang Ekonomi, enak kok keretanya, bagus lagi" iya sich emang bagus keretanya. Aku pernah liat waktu nganter ibu atau teman di waktu yang lain. Baiklah, aku pun luluh dan mengantri di stasiun Slawi.
Antriannya lumayan panjang, sambil celingak-celinguk gitu, tiba-tiba aku dikejutkan makhluk yang sudah tidak asing bagiku. Yekti, adek angkatan 2007-ku, "Mas, nitip dong!!!" sambil meringis. Ni gak ada basa-basi, ga ada apa-apa, kaya Preman aja langsung, "Mas, nitip dong."
Di dalam kereta setelah keretanya dateng, aku bingung karena di tiket tertulis gerbong 1. Karena dalam benakku, masih tertanam kuat Kaligung Alay itu. Aku dengan keluguanku dengan instingku langsung menuju ke gerbong paling depan. Dan ternyata penuh, hmmm, tapi kayaknya gerbong sebelah masih lenggang. Akhirnya aku pun langsung dapat tempat duduk. Tempat duduknya kaya Busway gitu dech. Tapi..., masih ada perasaan gak tenang, karena tulisan gerbong 1 itu. Aku pun sms Yekti, yang entah di mana?
"Ni kereta duduknya bebas kan??? hehe.. aku dah lama ga naek kereta"
lama banget dia bales, dan aku akhirnya menemukan dia ddi gerbong belakang gerbongku, dia lagi asyik baca Novel. Hufff... baru 1 jam kemudian dia bales, "Sorry, gak tau ada sms, ita bebas, keep enjoy...:)"
Keep enjoy apaan??? aku dari tadi tu takut banget tau. Kali aja diusir
Petugas : Mas, gerbong berapa?
Aku : Gerbong 1, Pak
Petugas : Ini gerbong 2, mohon pindah ke Gerbong Anda.
huhuhuhu TT
Sumpah aku parno banget padahal sudah jelas itu kaligung Ekonomi, bukan bisnis (alay maksudku) ataupun eksekutif.
| Kaligung Ekonomi |
Perjalanan waktu itu cukup menyenangkan, meskipun panas dan ternyata gerbongnya penuh dengan penumpang berdesakan. Kali ini aku memaklumi karena ini kereta ekonomi. Daripada kereta alay, yang sudah bisnis tapi masih aja ada orang bergelantungan di pintu atau berkelekaran di lantai... huhuhuh. Padahal aku gak pernah bermasalah dengan kereta Api lain, seperti ketika aku ke jakarta dan menggunakan Cireks (Cirebon Ekspres).
Setelah aku seamat dari acara perebusanku pake panci oleh MG (umpamakan aja dia kaya nenek sihir ^^v) aku pun langsung melaju ke agen Nusantara (dengan sebelumnya berkejar-kejaran dengan Bocah Lucu (Baca : Amal (adek angkatan 2008-ku)) dan aku berhasil melarikan diri dari dia dengan menuju kuburan) yang ada di Tempat Lokalisasi PSK Sunan Kuning, lho? hehe beneran soale agen Nusantara tuh deket ma tu tempat. Akhirnya aku bisa pulang lagi, meskipun gak jadi naik kereta, tapi pake bus seperti biasa. Nusantara, busnya enak dapet minum lagi sebotol. Mahal dikit gak papa lah, yang penting aku bisa tidur nyenyak. But, ada satu masalah juga klo aku pake bus, aku masih sering mabok (bukan karena miras ya) klo naek kendaraan yang jalan di jalan raya. Aku belum bisa meninggalkan dopingku, yaitu ANTIMO. Ya meskipun aku tertidur, tapi ketika sampe paling ga udah suegerr.
Banyak kenangan aku dan kereta alay itu. Seperti bertemu teman-teman lama semasa SMA, SMP, guru SD, teman-teman sekampus (termasuk Apri, yang waktu itu ketemu ge telpon terus cuman dadah-dadah doang, abis itu nelpon lagi, huhuhu aku dicuekin). Juga ketemu ma kejadian-kejadian unik kaya orang salah naik kereta (harusnya ke Pekalongan, tapi malah naiknya ke Solo, emang sih kereta ke Solo juga sama alaynya).
![]() |
| Cireks naik dari Brebes bisa |
Setelah aku seamat dari acara perebusanku pake panci oleh MG (umpamakan aja dia kaya nenek sihir ^^v) aku pun langsung melaju ke agen Nusantara (dengan sebelumnya berkejar-kejaran dengan Bocah Lucu (Baca : Amal (adek angkatan 2008-ku)) dan aku berhasil melarikan diri dari dia dengan menuju kuburan) yang ada di Tempat Lokalisasi PSK Sunan Kuning, lho? hehe beneran soale agen Nusantara tuh deket ma tu tempat. Akhirnya aku bisa pulang lagi, meskipun gak jadi naik kereta, tapi pake bus seperti biasa. Nusantara, busnya enak dapet minum lagi sebotol. Mahal dikit gak papa lah, yang penting aku bisa tidur nyenyak. But, ada satu masalah juga klo aku pake bus, aku masih sering mabok (bukan karena miras ya) klo naek kendaraan yang jalan di jalan raya. Aku belum bisa meninggalkan dopingku, yaitu ANTIMO. Ya meskipun aku tertidur, tapi ketika sampe paling ga udah suegerr.
Banyak kenangan aku dan kereta alay itu. Seperti bertemu teman-teman lama semasa SMA, SMP, guru SD, teman-teman sekampus (termasuk Apri, yang waktu itu ketemu ge telpon terus cuman dadah-dadah doang, abis itu nelpon lagi, huhuhu aku dicuekin). Juga ketemu ma kejadian-kejadian unik kaya orang salah naik kereta (harusnya ke Pekalongan, tapi malah naiknya ke Solo, emang sih kereta ke Solo juga sama alaynya).
Baiklah, Ntar Pri dan kawand-kawandku semua aku akan mengatasi traumaku ini setelah lulus nanti, do'akan ya ... Jeng Jeng Jeng. Sekarang kata Apri, Kaligung alay itu dibatasi untuk 30 penumpang, penumpang harus diaudisi terlebih dahulu untuk dapat menaikinya. hmmm, kaya Indonesian Odol aja ya? Setidaknya aku masih lebih baik daripada teman-temanku yang seumur hidup belum pernah merasakan yang namanya naik kereta Api, kaya Amin.hehe
Klo Amin baca ini, aku ingin berpesan, "Min, itu yang namanya kereta" wkwkwk
Naik Kereta Alay tut tut tut
Siapa hendak naik...
Listen you on the next
Klo Amin baca ini, aku ingin berpesan, "Min, itu yang namanya kereta" wkwkwk
Naik Kereta Alay tut tut tut
Siapa hendak naik...
Listen you on the next
Langganan:
Entri (Atom)

